Practical; Tauhid Zindani



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


kepulanganku dari salah satu program buat mereka yang bakal bergelar murobbi.
emm, terasa Allah s.w.t menyentuh halus lapisan hati.
kesekian kalinya bermain dengan perasaan; emosi belaka aini ni la.
jujurnya, mutiara enggak bisa memberhentikan alirannya.

rupanya sangkaan ku selama ini meleset semuanya.
keputusan untuk membawa adik-adik usrah bukan suatu tanggungjawab mudah. tak jua kuduga proses nya begitu sangat menjentik perasaan menerusi emosi. tangkai hati tika itu kencang degupannya.

assif, wahai murobbi ku. adinda mutarabbi mu yang saorang ini tidak bisa bikin kamu tersenyum petang itu.
adindamu yang saorang ini sedang berperang dengan perasaannya. kebetulan juga, kumpulan itu ‘dipilih’ Rabbi mempunyai dua sosok mutarabbi yang belum pernah membawa gerabak usrah. firasat ana kuat menyatakan peluang ini untuk sahabat perjuanganmu itu.

 kamu; selami riak wajah dan cara penyampaiannya agar kamu jua turut rasa apa yang dia rasa.
tidak dapat kubayangkan; saorang diri bersuara di dalam bulatan yang kurasa agak besar.

sahabat seperjuangan semua mampu untuk melakukannya dengan baik. tetapi ana? belum terpilih munkin. husnuzhon jasadku. Tuhanmu sedang berbicara. bicara soal jujur dan ikhlas kepada dirimu.

bi idznillahuta’ala ana akan practice sebaiknya.

murobbi ku, ana akan balas jasamu di waktu lainnya. nantikan detik itu ya. moga Rabbi mengijabahkan yang teristimewa buat jiwamu duhai kakanda murobbi; Kak Syira. insya-Allah waktu itu, kakanda mampu tersenyum bunga bahagia melihat adik di dalam gerabak usrahnya bisa menggalas tugasan dengan sempurna.

aduhai kakanda, moga sempat. itu saja yang mampu ana doa tika ini.

semurni jiwa murobbiku,
Kak syira; aini sayang pada akak lillahita’ala.

05 Rabiul Akhir 1436